Gambar pihak Ketiga
Hanya segelintir orang yang menyadari betapa besar
perjuangan guru dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang cerdas dan
bermartabat. Sebagai seorang tenaga pengajar yang mengemban tanggung jawab
untuk mendidik, mengajar dan menyalurkan pengetahuan kepada para anak didik, mereka
juga ikhlas mengabdikan jiwa dan raga demi terciptanya generasi emas dimasa
mendatang, meskipun aral rintangan saat menjalankan tugas sangatlah banyak.
Tidak berlebihan jika seorang guru kita anggap sebagai pahlawan era moderen
yang berjuang memberantas kebodohan diseluruh dunia.
Sebuah fenomena inspiratif terpapar tentang
perjuangan tenaga pengajar dalam menjalankan tugas di Desa Sebubus,Kec.Paloh,
Kab.Sambas. Tiga tenaga pengajar tersebut rela menempuh jalur pegunungan dengan
rute yang terbilang ekstrim untuk menuju sekolahan tempat mengajar yang
berjarak sekitar 5km, dari tempat kediaman mereka. Jarak yang mereka tempuh
untuk menuju sekolah memang relatif dekat, namun kesulitan mereka terdapat pada
kondisi jalan yang hampir mustahil untuk dilewati.
Terdapat dua rute jalan yang bisa dilalui untuk
menuju sekolahan tempat mereka menggajar, hanya saja, pada saat air laut meluap
naik hingga kejalan, maka rute tersebut tidak bisa dilewati, selain akibat
genangan air, pula kondisi jalan yang sangat becek dan licin hingga membuat kendaraan sulit
untuk dikendalikan, bahkan berbahaya bagi para pengendara. Jalur alternatif
apabila rute utama tidak dapat dilalui akibat kondisi jalan yang sangat licin
dan berlumpur, tenaga pengajar memilih
melewati rute perbukitan untuk menuju lokasi sekolahan.
Rute perbukitan itu terbilang cukup ekstrim bagi
para tenaga pengajar wanita, sebab dengan melewati jalur tersebut para guru
harus menyinsing lengan seragam mereka untuk mengangkat dan memindahkan
bebatuan besar yang berserakan disetiap lajur jalan yang mau tidak mau harus
dilewati demi menuju sekolah tempat mereka mengajar.
“ Perjalanan yang harus kami tempuh setiap hari
sekitar 5km, tempat tinggal saya di Merabau desa sebubus, Kec.Paloh. dan saya
mengajar di Sungai Dungun SDN 18 Sungai Dungun. Kami punya dua jalan, 1 jalan
as, 2 alternatifnya jalan gunung, apabila hujan dan air asin meluap hingga
kejalan, makan kami akan mengambil alternatif jalan gunung tempat orang
mengambil batu”. Ucap Yuli Herawati guru honorer di SDN 18 Sungai Dungun.
“ Apabila cuaca panas, waktu yang dibutuhkan untuk menuju
sekolahan hanya sekitar 20 menit, dan apabila dimusim hujan maka waktu yang
kami butuhkan untuk melewati rute tersebut menjadi 1 lebih” Tutupnya.
( singbebas/arie)





KOMEN KALLUU.. :)