Tan Unggal, salah satu raja yang pernah memimpin kerajaan Sambas. Tan unggal terkenal dengan kebijakan yang sangat keras, lagi kejam, ya seperti itulah Raja Tan Unggal di kenal. Tan Unggal mempunyai sepasang anak yang bernama Bujang Nadi, dan Dare Nandung.
Dare Nandung
merupakan seorang wanita yang sangat baik, tidak hanya berhati mulia,
Dare Nandung juga di anugerahi wajah yang sangat cantik Dan Bujang Nadi
seorang pria yang baik, gagah lagi tampan begitulah orang - orang
menilaiku.
Siang itu sangat
indah, matahari bersinar dengan hangat, serta kicauan burung sembari
menyanyikan melodi - melodi indah melambangkan kemakmuran negeri ini.
Aku dan adikku Dare Nandung berjalan di antara kesibukan desa, melihat
para petani dengan semangat menanam padi, serta pedagang - pedagang yang
menjual barangnya.
Tibalah kami
disebuah peranginan di tengah sawah, sejenak aku dan adikku duduk untuk
menikmati hembusan angin, dan menatap hamparan langit yang membiru. "
Abangku Nadi, Engakau seorang pria yang sangat baik, tampan nan lemah
lembut, mengapa sampai saat ini tiada satupun calon istri yang engkau
perkenalkan padaku ? Tanya Dare. " Aku menatap adikku sembari tersenyum
kepadanya.
"Adinda Dare, Kadang
aku memang terpikir unntuk mencari pasangan hidupku, tetapi sangat sulit
mencari seseorang yang benar - benar pas di hatiku. Untuk semenatara
ini, tiada wanita yang menguasai hatiku, hingga aku berfikir untuk
menjagamu duhai adikku yang cantik". Jawabku sambil mengusap kepala
adikku.
Bebepa menit menikmatik
kesejukan dan keindahan desa, aku dan adikku lalu bergegas untuk pulang
ke kerajaan. Aku dan Dare adikku melintasi persawahan dan pasar yang
sibuk di hari itu, saat aku berada ditengah keramaian pasar, tiba - tiba
seorang nenek tua memegang tanganku sambil menangis meratap dengan
sedihnya.
"Nenek, apakah gerangan
hingga engkau menangis saat memegang tangaku, maafkan aku duhai nenek,
jika aku telah menggangumu" Ucapku dengan lembut. Mendengar ucapaku
nenek itu malah tambah merintih saat melihatku dan Dare. " Nek, apakah
keluarga nenek perlu bantuan ? Jika iya, ayo pergi kerumah nenek dan
kami siap untuk membantu" Tutur Dare. Nenek tua itu hanya menangis dan
menangis, lalu nenek itu memeluk kami berdua dan berbisik.
"
Duhai Dare dan Nadi, Kuharap kalian berdua akan ikhlas dengan takdir
kalian di kemudian hari, tangan - tangan kesombongan akan merampas
kebaiikan serta keindahan kalian dari bumi ini. Kami sangat mencintai
kalian karena kebaikan hati serta ketulusan Suatu saat kami akan
merindukannya " Ucap sang nenek sambil menangis lalu pergi dari hadapan
kami.
Saat malam menjelang,
ucapan yang keluar dari lidah tua sang nenek membuat aku gelisan.
Beberapa hari aku mencoba menterjemahkan maksud yang ingin di sampaikan
nenek tua , namun seiring berjalannya waktu, Aku melupakan kejadian
tersebut. Aku berfikir mungkin nenek yang menyapaku beberapa hari yang
lalu hanya depresi akibat kehilangan seorang anak atau cucu.
Sebulan
setelah kejadian tersebut, di pagi hari kala mentari menghangatkan
seluruh bumi, dikala dedaunan berseri tertetes embun suci. Aku duduk di
sebuah pendopo kerajaan bersama adikku Dare. " Abangku, masihkah engkau
memikirikan pembicaraan nenek tua renta yang menyapa kita sebulan lalu?"
Tanya Dare.
"Tidak duhai adinda,
Aku telah melupakan hal tersebut, kareana ak berfikir nenek tua itu
hanya depresi" Jawabku sambil tersenyum melihat wajah adikku yang sangat
kucintai. " Abangku yang selalu menjagaku, Bagaimana tentang hal yang
kutanyakan di waktu yang lalu tentang pasanganmu ?" Tanya adikku seraya
tak sabar untuk mendapatkan seorang kakak ipar..
"
Adikku, lihat wajahmu, Tidak ada satupun perempuan di desa ini yang
menyaingi keindahanmu, engkau bagaikan sebuah hamparan bunga melati di
sebuah ladang kehidupan, kebaikan hatimu dapat memadamkan api yang
berkobar dan keindahan wajahmu bersinar bagai sebuah bulan di hamparan
langit penuh bintang".
" Aku tidak akan menikah duhai adikku, jika aku tidak bertemu dengan wanita seperti dirimu" Ucapku sambil menatap mata adikku.
"
Abangku yang tampan, Begitu pula diriku duhai abangku, aku tidak akan
menikah jikalau aku tidak menemukan seorang lelaki sepertimu, kesetianmu
melindungiku membuat aku bebas dari terkaman harimau - harimau,
kebaikan dirimu membuat aku aman dari penjahat -penjahat" Tutur Dare.
Pembicaraan tersebut didengar oleh pengawal kerajaan, dan melaporkan kepada Raja Tan Unggal .
" Ampun rajaku, Tadi hamba mendengar kedua anak tuan akan melangsungkan pernikahan ! ucap sang pengawal tersebut.
" Ampun rajaku, Tadi hamba mendengar kedua anak tuan akan melangsungkan pernikahan ! ucap sang pengawal tersebut.
Raja Tan Unggal sontak marah , dan mengutus penjaga untuk menjemput Aku dan Dare adikku.
"
Apa yang kalian rencanakan Anak durhaka, apakah kalian ingin menikah
dan membuat aku malu ? ucap Tan Unggal dengan sangat kasar. " Ayah,
Tiada maksud bagi kami berfikir seperti itu, Engaku hanya mendengar
pembicaraan yang kurang lengkap dari sang pengawal" Ucapku!
"
Ayah ku, engkau telah salah sangka duhai ayahku, kami mungkin melakukan
pernikahan tersebut, jika pembicaraan kami membuat ayah malu, ampunilah
kami dan hukumlah kami sesuai dengan kesalahan kami" Ucap Dare.
"
Kalian membuat aib untukku, kalian telah meneteskan minyak di antara
bara api yang menyala. Kalian akan mendapat hukuman yang setimpal
dariku" ucap tan unggal
Aku dan
adikku menangis memohon ampun kepada raja sekaligus ayahku sendiri,
namun tangisan yang keluar dari kedua mata dan hati yang bergetar sama
sekali tidak membuat ayah mengubah keputusannya untuk menghukum kami."
Pengawal, Ikat mereka, kurung mereka di kamar dan siapkan peti besi
untuk mereka" Perintah tan unggal.
Hari
ini aku dan adikku Dare di masukkan ke sebuah peti besi berukuran 4 x 4
meter lengkap dengan semua perbekalan, aku dan dare hanya pasrah dengan
apa yang di lakukan. Dare adikku tidak henti - hentinya menangis di
pangkuanku," Adikku sayang, Ikhlaskan semua ini, biarkan takdir menyapa
kita dengan kepedihan serta kemurkaannya " ucapku.
Kami
di seret untuk di bawa ke sebuah tempat. aku tidak pernah tau apa yang
akan ayah lakukan kepada kami. Sungguh mengejutkan Ayah menanam kami
dalam keadaan hidup di sebuah peti besi dan aku serta adikku hanya dapat
pasrah dengan perlakuan yang tidak manusiawi tersebut.
Semoga cerita ini dapat mengingatkan anda kepada cerita budaya yang telah usang, selamat menikmati.





KOMEN KALLUU.. :)