Orang tua mana yang tidak menyayangi anaknya, bahkan binatang buas
sekalipun tidak mampu melihat anaknya tersakiti. Ya kadang kasih sayang
yang diberikan seorang ayah atau ibu di sia - siakan begitu saja akibat
kurang pemikiran yang kurang dewasa.
Aku salah seorang mahasiswa di sebuah Universitas swasta di kota Malang. Aku berasal dari Kalimantan barat, kabupaten sambas, kecamatan Selakau. Menempuh pendidikan di daerah yang bukan tanah kelahiranku sungguh banyak menyimpan arti. Bertemu dengan budaya baru, teman baru, serta tempat tinggal baru.
Kota Malang merupakan salah satu destinasi wisata di Indonesia yang menyediakan banyak keindahan alam. Disinilah ceritaku dimulai.
Hari itu aku meninggalkan orang tua serta kerabatku di kampung halaman untuk menempuh pendidikan. Dengan percaya diri aku melangkahkan kaki dari tempat tinggalku. Selama kurang lebih 3 hari aku lontang - lantung di atas kapal untuk menuju kota Malang.
Tepat hari jumat, aku pertama kali menginjakkan kakiku di tanah jawa, uhh pada hari itu aku sangat bahagia bukan kepayang, bertemu dengan teman, budaya serta tempat yang baru. Selama kurang lebih 9 jam, aku sampai di kota tujuanku, Malang, kota yang sangat dingin, namun begitu indah.
Dengan kondisi fisik yang lemah, aku turun dari bis pengangkut mahasiswa, sungguh takjub, aku datang di kota ini. Hari pertama sangat berkesan di tempat ini karena rasa solidaritas teman satu daerah sangat luar biasa, selain itu, nuansa intelektual sangat terasa di lingkungan ini.
Beberapa bulan telah kulewati di sini, aku semakin menyatu dengan lingkungan dan mulai akrab dengan suasana kota indah ini. Seiring perjalanan waktu, teman - temanku pun semakin bertambah banyak, hingga apa yang di lakukan temanku pun ikut kulakukan.
Berjudi, mabok, serta mengkonsumsi narkoba kulakukan saat itu, haah aku bahkan tidak pernah berfikir jika semua ini adalah perbuatan yang salah, setiap saat, hari, minggu, dan bulan, hal yang sama selalu ku ulangi.
Sangat menyenangkan hidup jauh dari orang tua, tidak ada yang melarang, mengekang bahkan memarahi kita apa bila pulang larut malam. Malam jadi siang, siang jadi malam, hal seperti ini menjadi filosofi kehidupan kami, uh sangat menyenangkan.
Malam itu pada saat kami berkumpul di kost, sambil minum - minum, hujan turun perlahan seakan menangisi tingkah kami yang begitu menyesatkan. Awalnya semua berjalan seperti biasa sangat menyenangkan, namun entah mengapa malam itu hatiku sangat mengganjal. Aku menjauh dari kerumunan teman - temanku untuk menenangkan diri sejenak.
Selang beberapa menit kemudian saat hatiku mulai tenang, aku kembali berkumpul bersama teman. beberapa saat kemudian handphone yang ku pegang berbunyi, krink kring kring, kulihat dilayar hp ku, ternyata kakak sulungku yang menelepon. Awalnya tidak ku angkat, karena aku sadar dengan kondisiku dalam keadaan mabuk. Handphone ku kembali berbunyi kedua kalinya ! aku pun menjauh dari teman - teman untuk menerima panggilan telepon dari kakak sulungku.
Dengan susah payah aku mencoba memfokuskan diriku untuk mendengar suara telepon. " Arie bapak masuk rumah sakit, terserang stroke, ucap kakak sulungku, tadinya kepalaku sangat berat akibat efek dari minuman keras yang ku pinum. Tapi setelah mendengar ucapan kakak ku semuanya berubah, kepalaku ringan, namun jantungku berdetang dengan sangat kerasnya.
Aku mencoba mengontrol diri, namun apadayaku, tetesan air mataku tak tertahan hingga terjatuh ke bumi. Ya ampun aku tidak pernah memikirkan hal ini sama sekali, hatiku terasa terenggut saat mendengar ayahku sakit.
Sejenak aku terdiam, mencoba mengontrol diri, tetapi bayangan dan wajah ayah yang selalu ku banggakan selalu terlintas dalam pikiran. Aku mencoba berfikir positif namun prasangka buruk selalu saja terlintas hingga malam itu ku habiskan untuk menangis.
Bagaimana aku tidak menangis, janjiku dengan beliau untuk belajar dengan serius, tetapi pada saat aku datang di tempat ini, aku melupakan janji tersebut. Ayah yang selalu berjuang mencari nafkah dengan meneteskan keringat darah, selalu berjuang mencari sesuap nasi untuk menghidupiku, kini tergeletak sakit tanpa aku di sampingnya.
Ayah marah ketika aku pulang larut, bukan karena dia galak, tetapi dia takut terjadi apa - apa denganku.
Ayah memang tidak pernah mengucapkan kata cinta denganku, bukan karena dia tidak sayang, tetapi kasih sayang ayah terhadap anaknya di sampaikan dengan cara berbeda.
Ayah memang tidak pernah memperhatikanku, bukan karena dia tidak perhatian, tetapi karena dia terlalu sibuk untuk membesarkanku hingga aku sukses.
Ayah Merupakan sebuah bulan di hamparan langit gelap, memberi penerangan atas kegelapan, memberi kehidupan atas kematian. Berjuang demi nama keluarga itulah filosofi seorang ayah.
Mulai saat itu, aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang ku perbuat selama ini, berhenti mabuk, berjudi dan mengkonsumsi narkoba.
Aku mewakili seluruh anak di dunia mengucapkan " Kami mencintai ayah sama seperti kami mencintai ibu "
Aku salah seorang mahasiswa di sebuah Universitas swasta di kota Malang. Aku berasal dari Kalimantan barat, kabupaten sambas, kecamatan Selakau. Menempuh pendidikan di daerah yang bukan tanah kelahiranku sungguh banyak menyimpan arti. Bertemu dengan budaya baru, teman baru, serta tempat tinggal baru.
Kota Malang merupakan salah satu destinasi wisata di Indonesia yang menyediakan banyak keindahan alam. Disinilah ceritaku dimulai.
Hari itu aku meninggalkan orang tua serta kerabatku di kampung halaman untuk menempuh pendidikan. Dengan percaya diri aku melangkahkan kaki dari tempat tinggalku. Selama kurang lebih 3 hari aku lontang - lantung di atas kapal untuk menuju kota Malang.
Tepat hari jumat, aku pertama kali menginjakkan kakiku di tanah jawa, uhh pada hari itu aku sangat bahagia bukan kepayang, bertemu dengan teman, budaya serta tempat yang baru. Selama kurang lebih 9 jam, aku sampai di kota tujuanku, Malang, kota yang sangat dingin, namun begitu indah.
Dengan kondisi fisik yang lemah, aku turun dari bis pengangkut mahasiswa, sungguh takjub, aku datang di kota ini. Hari pertama sangat berkesan di tempat ini karena rasa solidaritas teman satu daerah sangat luar biasa, selain itu, nuansa intelektual sangat terasa di lingkungan ini.
Beberapa bulan telah kulewati di sini, aku semakin menyatu dengan lingkungan dan mulai akrab dengan suasana kota indah ini. Seiring perjalanan waktu, teman - temanku pun semakin bertambah banyak, hingga apa yang di lakukan temanku pun ikut kulakukan.
Berjudi, mabok, serta mengkonsumsi narkoba kulakukan saat itu, haah aku bahkan tidak pernah berfikir jika semua ini adalah perbuatan yang salah, setiap saat, hari, minggu, dan bulan, hal yang sama selalu ku ulangi.
Sangat menyenangkan hidup jauh dari orang tua, tidak ada yang melarang, mengekang bahkan memarahi kita apa bila pulang larut malam. Malam jadi siang, siang jadi malam, hal seperti ini menjadi filosofi kehidupan kami, uh sangat menyenangkan.
Malam itu pada saat kami berkumpul di kost, sambil minum - minum, hujan turun perlahan seakan menangisi tingkah kami yang begitu menyesatkan. Awalnya semua berjalan seperti biasa sangat menyenangkan, namun entah mengapa malam itu hatiku sangat mengganjal. Aku menjauh dari kerumunan teman - temanku untuk menenangkan diri sejenak.
Selang beberapa menit kemudian saat hatiku mulai tenang, aku kembali berkumpul bersama teman. beberapa saat kemudian handphone yang ku pegang berbunyi, krink kring kring, kulihat dilayar hp ku, ternyata kakak sulungku yang menelepon. Awalnya tidak ku angkat, karena aku sadar dengan kondisiku dalam keadaan mabuk. Handphone ku kembali berbunyi kedua kalinya ! aku pun menjauh dari teman - teman untuk menerima panggilan telepon dari kakak sulungku.
Dengan susah payah aku mencoba memfokuskan diriku untuk mendengar suara telepon. " Arie bapak masuk rumah sakit, terserang stroke, ucap kakak sulungku, tadinya kepalaku sangat berat akibat efek dari minuman keras yang ku pinum. Tapi setelah mendengar ucapan kakak ku semuanya berubah, kepalaku ringan, namun jantungku berdetang dengan sangat kerasnya.
Aku mencoba mengontrol diri, namun apadayaku, tetesan air mataku tak tertahan hingga terjatuh ke bumi. Ya ampun aku tidak pernah memikirkan hal ini sama sekali, hatiku terasa terenggut saat mendengar ayahku sakit.
Sejenak aku terdiam, mencoba mengontrol diri, tetapi bayangan dan wajah ayah yang selalu ku banggakan selalu terlintas dalam pikiran. Aku mencoba berfikir positif namun prasangka buruk selalu saja terlintas hingga malam itu ku habiskan untuk menangis.
Bagaimana aku tidak menangis, janjiku dengan beliau untuk belajar dengan serius, tetapi pada saat aku datang di tempat ini, aku melupakan janji tersebut. Ayah yang selalu berjuang mencari nafkah dengan meneteskan keringat darah, selalu berjuang mencari sesuap nasi untuk menghidupiku, kini tergeletak sakit tanpa aku di sampingnya.
Ayah marah ketika aku pulang larut, bukan karena dia galak, tetapi dia takut terjadi apa - apa denganku.
Ayah memang tidak pernah mengucapkan kata cinta denganku, bukan karena dia tidak sayang, tetapi kasih sayang ayah terhadap anaknya di sampaikan dengan cara berbeda.
Ayah memang tidak pernah memperhatikanku, bukan karena dia tidak perhatian, tetapi karena dia terlalu sibuk untuk membesarkanku hingga aku sukses.
Ayah Merupakan sebuah bulan di hamparan langit gelap, memberi penerangan atas kegelapan, memberi kehidupan atas kematian. Berjuang demi nama keluarga itulah filosofi seorang ayah.
Mulai saat itu, aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang ku perbuat selama ini, berhenti mabuk, berjudi dan mengkonsumsi narkoba.
Aku mewakili seluruh anak di dunia mengucapkan " Kami mencintai ayah sama seperti kami mencintai ibu "





KOMEN KALLUU.. :)